-->

Teori Bourdieu Field of Struggle dalam Film, Ini Contoh Analisisnya

Teori Bourdieu Field of Struggle dalam Film, Ini Contoh Analisisnya
Teori Bourdieu Field of Struggle dalam Film, Ini Contoh Analisisnya

Memahami teori Bourdieu Field of Struggle dalam film, ini contoh analisisnya pada film “The Act of Killing and The Look of Silence”.

Pierre Bourdieu adalah pemikir sosial yang fokus pada kajian bahasa sebagai instrument tindakan atau praktik sosial.

Ide besarnya dapat di katakan melampaui jaman. Pemikirannya di latarbelakangi dualisme antara strukturalisme dan eksistensialisme.

Sosiologi Info – Bertitik tolak dari pemikiran kedua aliran ini, Bourdieu mencoba untuk mendamaikan obyektivitas dan subyektivitas melalui teori praktik sosial.

Yang di urai menjadi konsep habitus, ranah, modal, bahasa, strategi, serta field of struggle. Berikut kita akan melihat.

Bagaimana operasionalisasi salah satu teori Bourdieu yakni field of struggle dalam melihat bagaimana pelaku pembυnυhan massal mengingat masa lalu.

Dan bagaimana itu ditafsirkan kembali oleh mereka di masa sekarang dengan mengkontestasikan sosio-historis.

Memahami Modal Kultural

Modal kultural terindentifikasi dalam The Act of Killing dan The Look of Silence mewakili tindakan pelaku dalam mengumpulkan modal.

Seperti yang di jelaskan oleh Bourdieu, agen sosial harus dapat menunjukkan kapasitas mereka untuk memperoleh modal budaya.

Yang dapat di pertukarkan melalui budaya yang di obyektivasi dan di lembagakan untuk mempertahankan nilai simbolis mereka dalam field of struggle.

Sebagaimana di wakili oleh pelaku dalam The Act of Killing dan The Look of Silence bahwa tindakan mengumpulkan dan mereproduksi pembυnυhan massal menjadi bentuk modal kultural.

Dalam kasus ini dapat mengakumulasikan dan memberlakukan kembali aksi pembυnυhan dan mempertahankan narasi dominan mendominasi peningkatan volume ‘pembυnυhan massal sebagai modal budaya yang menghasilkan aspek simbolis dan kemudian berubah menjadi modal simbolik.

Efek simbolis bertujuan juga untuk memproduksi kekerasan simbolik yang membuat para korban tetap diam.

Tindakan para pelaku kekerasan simbolik juga mengabadikan keheningan bahwa doxa di pertahankan dalam kekuatan yang tersembunyi.

Field of struggle tidak hanya di masa lalu, akan tetapi untuk mempertahankan posisi dominan mereka di masa sekarang.

Tindakan pelaku juga bisa di tafsirkan sebagai akumulasi pembυnυhan massal sebagai bentuk modal kultural.

Kemudian yang selanjutnya berfungsi sebagai instrument kekerasan simbolik untuk mempertahankan posisi mereka sebagai pahlawan.

Pelaku menafsirkan kembali ingatan mereka dengan berbeda yang di tunjukkan dalam The Act of Killing.

Kontras Penafsiran

Kontras antara penafsiran kembali ingatan pelaku dapat di lihat pada kasus Kongo dan Zulkadry. Sepanjang film, Kongo direpresentasikan sebagai pengalaman dua fase yang berbeda : adegan atap pertama (2005) dan kedua di akhir film (5 tahun kemudian).

Kongo membanggakan kejahatannya dengan menari cha-cha-cha, sedangkan di adegan kedua ia mengakui tindakan masa lalunya dan mencoba untuk membenarkan mereka.

(“saya tahu apa yang saya lakukan itu salah, tetapi saya harus melakukannya”),  dan dia juga mengeksternalkan kesedihannya dengan muntah berulang kali selama adegan.

Berbeda dengan Kongo, Zulkadry diwakili dalam film sebagai pelaku yang mampu mereproduksi kenangan pembυnυhan massal sebagai pemenang.

Zulkadry menyatakan bahwa tindakan pembυnυhan massal memang harus di lakukan.

Perbedaan interpretasi Kongo dan Zulkadry mengungkapkan kondisi ketimpangan field of struggle di masa lalu.

Walau ia berhasil menjadikan pembυnυhan massal sebagai modal kultural dan menikmati status impunitas dalam masyarakat.

Melalui adegan ini, Kongo dapat di identifikasi sebagai pelaku yang lebih rendah posisinya sebagai field of struggle dibandingkan dengan Zulkadry.

Kongo tidak mengalami akumulasi modal ekonomi secara drastic dan tidak mengalami mobilitas kelas atas. Sebaliknya, Zulkadry di representasikan berhasil mencapai mobilitas kelas atas.

Secara teoritis, adegan fil  mewakili lintasan pelaku yang dapat di lacak saat mereka bergerak melalui ruang sosial tergantung modal sosial, ekonomi, dan budaya.

Jadi, perbedaan kelas mempengaruhi bagaimana pelaku merekonstruksi ingatan mereka dan bagaimana mereka bertahan hidup seiring bertambahnya usia.

Akhirnya itulah pembahasan tentang Teori Bourdieu Field of Struggle dalam Film, Ini Contoh Analisisnya.

Penulis : Indah Sari Rahmaini – Dosen Departemen Sosiologi Universitas Andalas

Ikuti Sosiologi Info di Google News, klik disini !