-->

Ulasan Film The Act of Killing and The Look of Silence dalam Sosiologi

Ulasan Film The Act of Killing and The Look of Silence dalam Sosiologi
Ulasan Film The Act of Killing and The Look of Silence dalam Sosiologi

Ulasan film The Act of Killing and The Look of Silence dalam perspektif Sosiologi dengan menggunakan teori dan pemikiran Pierre Bourdieu.

Artikel ini membahas cara kerja analisis Bourdieu dalam menjelaskan pembυnυhan massal.

Selanjutnya melalui karya film dokumenter yakni The Act of Killling (2014) dan The look of Silence (2012) oleh Joshua Oppenheimer.

Sosiologi Info – Kedua film ini sama-sama membedah pembυnυhan massal yang terjadi pada rezim orde baru melalui perspektif pelaku.

Kedua film dokumenter ini di pilih karena memiliki sudut pandang yang berbeda dan khas seiring dengan transisi era demokrasi.

Ulasan Film The Act of Killing and The Look of Silence dalam Sosiologi

Selanjutnya yang mempengaruhi analisis tingkat kebebasan masyarakat dalam aspek sosial, ekonomi, maupun budaya.

Kendati demikian, film ini juga banyak mendapat kritikan karena tidak memperlihatkan pandangan korban, kurang mengeksplorasi keterlibatan militer dalam aksi, hingga pada aspek kesuksesan dari film itu sendiri.

Artikel bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pelaku mengingat masa lalu yang kemudian di tafsirkan kembali pada masa sekarang.

Dan bagaimana konteks pelaku dalam merekonstruksi ingatan mereka dengan menggunakan pendekatan Bourdieu.

Pemikiran Borudieu yakni ranah, modal, dan doxa yang di kontestasikan menjadi refleksi kritis atas rezim otoriter Suharto (1966-1998) dan era reformasi.

Pro Kontra The Act of Killing dan The Look of Silence

Pameran utama dalam The Act of Killing adalah Anwar Kongo.

Ia merupakan gangster yang bekerja sama dengan militer dalam menahan, menyiksa, dan membunuh simpatisan  Partai Komunis Indonesia.

Melalui film, asisten Kongo, Herman Koto dan kawan kongo yang juga salah satu para pemimpin pembυnυhan massal Adi Zulkadry juga mengambil peran penting atas interpretasi ulang ingatan dan kesalahan Kongo.

Selanjutnya yang berlawanan dengan Kongo, Koto dan Zulkadry menunjukkan harga dirinya sebagai pelaku tanpa penyesalan.

Semua pelaku adalah Pemuda Pancasila yang merupakan organisasi anti komunis yang menjadi kawanan setia orde baru.

Fragmen-fragmen film ini mengekspos vulgaritas teknik-teknik Kongo dalam membunuh, menyiksa, dan memamerkan reproduksi impunitas yang di dukung negara dari orang-orang yang di berikan sebagai pahlawan nasional.

Sedangkan pemain utama film The Look of Silence adalah Adi Rukun, seorang ahli kacamata yang memiliki saudara laki-laki korban pembυnυhan massal 2 tahun sebelum ia lahir.

Hampir semua adegan menunjukkan perjalanan Rukun menghadapi mantan pelaku pembυnυhan massal.

Rukun berhasil menghadapi beberapa pelaku secara langsung, termasuk Inong yang bekerja sama dengan Amir Hasan untuk membunuh kakaknya.

Dia juga berhasil meminta klarifikasi dari pamannya sebagai penjaga penjara yang secara tidak langsung berkontribusi pada pembυnυhan massal di daerah tersebut.

Dua Hal Penting

Ada dua hal penting yang di alami Rukun saat mewawancarai pelaku, yakni penolakan dan pengabadian doxa bahwa korban patut disalahkan.

Dari kedua gambaran singkat film dokumenter tersebut, terdapat berbagai pro dan kontra yang menyelimutinya.

The Act of Killing dalam paparan kritis memperlihatkan hegemonik masyarakat Indonesia sebagai bangsa preman dan seharusnya di berikan notifikasi agar bijak dalam menonton.

Kritik tersebut juga di bantah karena aspek film sendiri tidak memperlihatkan pembantaian maupun peran militer didalamnya.

Namun, eksplorasi ide dari film juga menimbulkan keraguan dalam merubah perspektif masyarakat Indonesia dalam menanggapi kejadian masa lalu yang penuh kekerasan di Indonesia.

Film juga mengalami kekurangan ulasan historis serta bias produksi pengetahuan dunia utara.

Sutopo menyatakan bahwa film tersebut butuh di apresiasi dalam meningkatkan kesadaran internasional pembυnυhan massal di Indonesia dalam wacana hak asasi manusia global.

Artikel ini menjadi salah satu artikel yang mengulas keterlibatan pelaku di dalam kasus pembυnυhan massal rezim orde baru.

Memori Pembυnuhan Massal sebagai Mekanisme Perjuangan

Teori Bourdieu mengenai mekanisme perjuangan menjadi relevan dengan menonton The Act Killing dan The Look of Silence yang di kontestasikan.

Dengan dinamika kehidupan Indonesia seperti perjuangan yang tiada akhir hanya untuk bertahan hidup secara struktural di bawah ketidakpastian.

Agen sosial perlu di tempatkan dalam bidang perjuangan hirarkis pada kondisi yang ada dalam menafsirkan kembali ingatan pembυnυhan massal.

Bagi Bourdieu, medan perjuangan adalah konsep penggambaran struktur obyektif  yang di hadapi agen sosial.

Ranah perjuangan Bourdieu dapat berguna untuk memetakan agen sosial serta keterkaitan konteks makro dan mikro dalam pembυnυhan.

Dalam konteks makro, pasca perang dunia II menjadi salah satu konteks global yang penting selama pembυnυhan massal.

Pembυnυhan massal juga terjadi dalam kondisi konfrontasi politik internal antara nasionalis, islam, dan komunis.

Pembυnυhan massal sebagai konteks historis beroperasi dalam bidang perjuangan hierarkis di Indonesia yang tidak dapat di pisahkan.

Dari persaingan dan perebutan kekuasan antara keterkaitan nasionalis, islam, dan komunis pasca perang dunia kedua di Asia tenggara.

Ranah Perjuangan

Dengan demikian, menerapkan ranah perjuangan Bourdieu sebagai konsep analitis bisa produktif untuk memahami dinamika antara agen sosial yang di perebutkan di lapangan.

Seperti yang di tunjukkan dalam adegan The Act of Killing dan The Look of Silence, pameran utama dengan bangga menunjukkan kevυlgaran.

Dari pembυnυhan massal yang terinsiprasi dari setiap adegan pembυnυhan pada film Amerika di wujudkan melalui pembυnυhan dan penyiksaan secara rinci serta di ikuti oleh pelaku lain.

Menggunakan pendekatan Bourdieu, protagonist dari kedua film merupakan bagian dari perjuangan.

Untuk mendapatkan posisi sosial yang lebih baik di bidang lokal dalam menanggapi perubahan sosial selama Perang Dunia II.

Pembυnυhan massal selalu menjadi produk antara peluang improvisasi agen sosial dan peningkatakan gravitasi struktur obyektif di manifestasikan sebagai kekuatan sosial di ranah perjuangan.

Pelaku mengartikan ingatan pembυnυhan yang mereka lakukan sebagai agen sosial yang mengalami hysteresis.

Yakni suatu kondisi di mana habitus mereka yang ada tidak cocok dengan yang baru sebagai konsekuensi ketegangan lokal dan perang global.

Para pelaku dengan bangga menunjukkan ketidakmanusiawian dan vulgar menuju ingatan mereka tentang pembυnυhan massal.

Ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menyoroti aspek kognitif, dinamika kelompok, rasisme, dan trauma pelaku.

Dengan demikian, dapat di katakan bahwa berlakunya kembali pembυnυhan di kedua film tersebut membenarkan.

Tindakan para pelaku sebagai investasi dengan kekuatan sosial di lapangan tidak hanya di masa lalu, tetapi juga di masa sekarang.

Akhirnya itulah pembahasan tentang Ulasan Film The Act of Killing and The Look of Silence dalam Sosiologi.

Penulis : Indah Sari Rahmaini – Dosen Departemen Sosiologi Universitas Indonesia

Ikuti Sosiologi Info di Google News, klik disini !