Memahami Pemikiran Auguste Comte : Tiga Tingkatan Intelegensi Manusia

Sosiologi Info - Memahami Pemikiran Auguste Comte tentang hukum tiga tahap atau disebut juga tiga tingkatan intelegensi manusia, yaitu tahap teologis, tahap metafisik, dan tahap positivisme.

Contoh fenomena sosial kemasyaratan sekarang, seperti pandemi Covid-19 mengingatkan kita pada hukum tiga tahap Comte. Yuk baca lebih lengkapnya.

Pandemi Covid-19 sebagai contoh memahami pemikiran Auguste Comte. Sudah delapan bulan kita merasakan pandemi virus corona di Indonesia, sejak Maret sampai Oktober 2020.

Masa pandemi ini membuat masyarakat mengalami perubahan yang begitu cepat, kebiasaan manual, sekarang berubah ke online, seperti belajar mengajar, semuanya sistem daring, begitu juga dengan rapat-rapat, dan seminar.

Dengan adanya pandemi virus corona, masyarakat juga mengalami perubahan-perubahan mendasar, seperti penerapan gaya hidup baru dengan memperketat diri pada protokol kesehatan.

Tujuan untuk menghindari dan menjaga daya tahan/imun tubuh. Gaya hidup baru ini disebut dengan 4 M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumumanan.

Tidak hanya program 4 M yang selalu disosialisasikan oleh pemerintah. Ada juga program 7 T, dan 3 B yang memang masing-masing daerah bisa menyesuaikan.

Lalu, apa yang diterapkan dalam 7 T, yaitu tetap waspada dan hati-hati, tidak perlu berlebihan, tetap dirumah jika tidak ada keperluan penting dan mendesak.

Tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat, tetap menjaga makanan sehat, tetap berolahraga dan istirahat yang cukup, dan tetap menjaga daya tahan tubuh.

Kemudian, ada program 3 B, yaitu berikan dukunan moral untuk pasien terkonfirmasi, suspek dan tenaga medis. Bila meraskan gejala periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT.

Ini mengingatkan saya pada pemikiran Auguste Comte tentang hukum tiga tahap atau tahap telologis masyarakat, yaitu tahap pertama teologis, tahap kedua metafisik, dan tahap ketiga positivisme.

Auguste Comte. Ia dikenal sebagai bapak sosiologi dunia. Comte sebenarnya bukan orang pertama yang memberikan kajian berkaitan dengan masyarakat. 

Lebih dulu memang Ibnu Khaldun yang sudah menyampaikan tentang masyarakat dalam buku Mukaddimah, sekitar abad ke 14 an. Namun, karena Comte lebih sistematis dalam mengkaji fenomena masyarakat dengan menggunakan ilmu sosiologi.

Pada akhirnya, sekitar pertengahan abad ke 19 (1856) ilmu sosiologi bisa melepaskan diri dari filsafat dan beridir sendiri.

Pemikiran-pemikiran Comte mulai menjadi dasar-dasar ilmu sosiologi, seperti :

-Social Dinamic
-Social Statics

Selanjutnya, Comte dalam The Telogical or Fictitious, The Metaphysical or Abstract, and The Scientific or Positive, mengungkapkan tiga tahapan pemikiran manusia, yaitu :

-Tahap Teologis
-Tahap Metafisis
-Tahap Positivis


Jika sudah membaca tiga tahapan tingkat intelegensi masyarakat diatas, mari kita lanjutkan. 

Pertama, tahap teologis, dimana masyarakat saat sekarang dengan adanya pandemi virus corona, masih berkeyakinan peristiwa global ini adalah kuasa Tuhan. 

Dengan cara-cara berdoa, dan meminta ampun atas pandemi ini masyarakat percaya pandemi ini akan berakhir karena ada kuasa dari Tuhan.

Dimana hal ini diluar nalar kita sebagai manusia, menjadi peristiwa yang mengingatkan manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kedua, tahap metafisik, pada tahapan ini memang masih percaya adanya Tuhan, namun terlepas dari itu semua. Saat pandemi virus corona, masyarakat juga yakin dengan adanya kekuatan alam.

Peristiwa virus corona yang muncul menjadi pandemi secara global, membuat masyarakat percaya atas segala kejadian dimuka bumi adalah hukum alam yang tidak bisa dihindarkan atau diubah dalam waktu cepat.

Oleh karena itu, masyarakat pada saat ini mengharapkan adanya penemuan vaksin agar virus corona dapat teratasi. Untuk penjelasan ini lanjut pada tahap ketiga.

Ketiga, tahap positivisme, tahap ini menjelaskan bahwa fenomena yang terjadi akan dijelaskan secara ilmiah berdasarkan peninjauan, pengujian, dan dibuktikan secara empiris.

Terbukti, pada saat awal munculnya virus corona di Wuhan, China, dan akhirnya merebak menjadi pandemi global.

Dari awal, WHO memang belum mempunyai standar yang ada untuk mencegah penularan virus corona.
Sempat disebutkan tidak menular, sempat dibilang tidak bisa bertahan di suhu yang panas, seperti Indonesia, serta berbagai langkah-langkah yang diambil belum atas pertimbangan ilmiah.

Namun, sekarang sesuai dengan hasil riset dan perkembangan ilmu sains, menyebut virus corona dapat dihindari oleh manusia dengan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan.

Kemudian, berkembangnya vaksin yang diteliti oleh ahli-ahli obat yang ada di seluruh dunia. Disinilah masyarakat menunggu adanya vaksinisasi agar tidak terpapar corona. 

Pemerintah pun saat ini dengan terus melaksanakan sosialisasi vaksinisasi kepada masyarakat, mulai dengan menyiapkan anggaran, prosedur vaksinisasi, serta aturan lainnya.

Nah, dari ketiga tahap hasil pemikiran Comte kita bisa melihat bagaimana masyarakat sampai saat ini mempunyai tingkatan intelegensi, pada situasi apapun. Mulai dari tahap teologis, metafisik, dan positivisme.

Sumber foto : dok.pribadi