-->

Pengertian Culture Shock atau Gegar Budaya : Faktor Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Contohnya

Penjelasan dan Pengertian Culture Shock atau Gegar dan Kejutan Budaya. Faktor penyebabnya, gejala, serta cara mengatasinya.
Pengertian Culture Shock atau Gegar Budaya : Faktor Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Contohnya

Sosiologi Info - Penjelasan dan Pengertian Culture Shock atau Gegar Budaya yang pastinya pernah kita alami sebagai seorang individu yang berada di lingkungan baru. 

Lalu apa saja faktor-faktor penyebabnya, gejala yang muncul, serta cara-cara mengatasi, dan contohnya. Yuk simak ulasan dibawah ini !

Interaksi dan komunikasi sosial mahluk sosial

Manusia sebagai mahluk sosial pastinya akan selalu menjalin interaksi dan komunikasi sosial antar sesama manusia. 

Individu sesama individu akan terus berkomunikasi dan berinteraksi sesuai dengan kebutuhan hidup dan lingkungan sosialnya. 

Lalu, seseorang individu akan mengalami cultur shock, gegar atau kejutan budaya saat ia masuk dalam habitat yang berbeda dari tempat ia tinggal sebelumnya. 

Misalnya lingkungan sekolah, kampus, tempat kos, tempat kerja, atau lingkungan bermain dan lingkungan masyarakat tempat seseorang itu tinggal. 

Dimana, ia akan mulai beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut, perlu adanya penyesuaian, yang memungkinkan membuat seseorang mengalami gegar budaya. 

Nah, apa sih pengertian cultur shock, gegar atau kejutan budaya itu, yuk simak ulasan singkat dibawah ini guys !

Sejarahnya Awal Teori Gegar Budaya 

Hall (1959) adalah seseorang tokoh yang pertama kali memperkenalkan teori gegar budaya atau biasa kita disebut sebagai culture shock. 

Ia menyebut gegar budaya adalah sebagai sebuah gangguan pada semua hal yang biasa dihadapi di tempat asal menjadi sangan berbeda dengan hal baru yang dihadapi di tempat atau lingkungan baru dan asing. 

Selanjutnya, Oberg (1960) melakukan penelitian perihal gegar budaya dengan cara menggambarkan respon yang mendalam dan menunjukkan adanya ketidakmampuan yang dialami oleh seorang individu. 

Seperti dilingkungan baru, yang mana ketidakmampuan itu terjadi pada kognitif, sehingga menyebabkan gangguan pada identitas. 

Menurutnya, gegar budaya merupakan reaksi emosi terhadap perbedaan budaya yang tidak terduga dan terjadi kesalahpahaman pada pengalaman berbeda-beda. 

Disinilah yang mengakibatkan munculnya perasaan yang tidak berdaya, mudal terpancing emosi, takut akan dibohongi, dan dilukai serta diacuhkan. 

Pengertian dan Penjelasan Culture Shock, Gegar dan Kejutan Budaya

Gegar budaya atau shock culture adalah suatu bentuk adanya kebingungan atau adanya disorientasi yang muncul pada saat kita memasuki lingkungan baru dengan budaya yang berbeda-beda dari lingkungan asalnya. 

Adanya perubahan-perubahan yang dialami oleh seseorang individu yang berada dilingkungan berbeda dari sebelumnya, tentunya akan membuat seseorang individu itu akan mudah mengalami stress. 

Terutama dengan adanya perubahan struktur, interaksi, dan komunikasi sosial yang berlangsung secara berbeda dari daerah asal lingkungan seseorang individu tersebut, apalagi berbeda latar belakang yang beragam. 

Menurut Samovar, Richard dan Edwin (2010) mengatakan individu yang mengalami perubahan yang menyebabkan seseorang stress itu yang disebutnya sebagai gegar budaya. 

Artinya, gegar budaya yaitu ketidaknyamanan yang dirasakan individu termanifestasikan sebagai perasaan terasing, menonjol, berbeda sehingga memunculkan kesadaran akan adanya ketidakefektifan pola perilaku baru dengan lingkungan lama yang diterapkan di lingkungan barunya. 

Sementara itu, menurut Kim dalam Martin mengatakan culture shock adalah proses penting yang harus dilewati individu yang berpindah ke lingkungan baru. Individu tersebut juga harus bisa menghadapi terpaan masalah sosial, psikologis, dan filosofi dari perbedaan budaya (2001:249). 

Dengan demikian, culture shock merupakan sebuah reaksi emosional karena kurangnya penguatan dari budaya sendiri, menuju ke budaya baru. Culture shock juga sebagai pembelajaran budaya dan pengembangan diri serta adaptasi baru. 

Faktor Penyebab dan Gejala Mempengaruhi terjadinya Culture Shock, Gegar dan Kejutan Budaya  

Kita semua pastinya pernah mengalami gegar budaya. Saya sendiri yang pernah kuliah di luar kampung halaman pernah merasakan pengalaman gegar budaya ini. 

Proses adaptasi yang kita jalani secara cepat yang terkadang juga membawa dampak pada diri kita sendiri secara mental. Oleh karena itu, proses adaptasi baru ini memang membutuhkan waktu. 

Lalu, apa saja penyebab yang mempengaruhinya ? Berikut ini penjelasannya tanda-tandanya sedang mengalami gegar budaya, yaitu : 

- Biasanya seseorang yang mengalami gegar budaya merasa sendiri, frustasi, sedih, dan tidak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. 

- Ia akan meninggalkan atau menarik dirinya sendiri dari lingkungan sekitarnya, atau menjauhi diri pada aktivitas sehari-hari warga sekitarnya, misalnya saja tidak hadir pada acara kebudayaan, doa, gotong royong, dan contoh lainnya. 

- Individu itu akan merasakan kangen dengan lingkungan lama, atau tempat tinggal rumah lamanya, serta rindu akan kenangan-kenangan lamanya.

- Munculnya perasaan yang tidak berdaya, atau tidak termotivasi untuk bersaing serta mencari kenalan baru maupun aktivitas sosial baru untuk dirinya, lebih memilih untuk di rumah saja, tidur. 

- Mengalami depresi

- Biasanya individu sering kali memberikan komentar terhadap budaya setempat yang ada pada lingkungannya

Gegar budaya yang dialami oleh seseorang individu bisa saja mengakibatkan stress atau ketegangan yang dihadapakan individu pada situasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. 

Misalnya, adanya perbedaan bahasa, gaya berpakaian atau fashion, perilaku pola makan dan kebiasaan cara makan, serta pola-pola perilaku lainnya, perbedaan relasi. 

Selanjutnya, adanya perbedaan waktu belajar, pola tidur, tingkah laku, peraturan, sistem politik, serta perkembangan ekonomi, sistem pendidikan atau pengajaran, dan perbedaan transportasi yang ada. (Indriane, 2012).

Ada beberapa aspek penting yang dapat menjelaskan terjadinya gegar budaya, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Oberg (1960), yaitu sebagai berikut : 

(1) Adanya ketegangan karena upaya untuk beradaptasi secara psikologis,

(2) Rasa kehilangan terhadap teman, status, profesi, dan harta,

(3) Ditolak atau menolak anggota budaya baru,

(4) Kebingungan dalam peran, harapan dan nilai,

(5) Cemas hingaa jijik dan marah saat menyadari adanya perbedaan budaya,

(6) Adanya perasaan tidak berdaya karena kurang atau bahkan tidak mampu dalam mengatasi lingkungan baru.

Tahapan Culture Shock, Gegar dan Kejutan Budaya

Adapun tahapan gegar budaya menurut dua tokoh berikut ini yaitu : 

Menurut Hall (1959) yang ditulis pada buku, mengatakan setiap mahluk hidup pastinya akan mengalami tahapan kehidupan, tak terkecuali gegar budaya. 

Menurutnya, ada empat tahapan yang akan dilalui oleh manusia pada tahap gegar budaya, yaitu digambarkan pada : 

(1) The honeymoon phase yaitu adanya perasaan bahagia ketika sampai di tempat baru,

(2) The crisis phase yaitu perasaan tidak berdaya yang disebabkan karena adanya perbedaan yang sangat signifikan dengan daerah asal, namun individu akan segera melaluinya ketika individu mampu menyesuaikan diri dengan baik,

(3) The adjustment place yaitu individu mulai mampu membangun interaksi dengan lingkungan barunya,

(4) Bi-cultural phase yaitu individu merasa nyaman dengan memiliki dua kebudayaan, keadaan ini merupakan indikasi yang baik, karena individu berhasil melewati seleksi alam kecil. Akan tetapi ada juga individu yang terlalu memuja kebudayaan asing, sehingga ketika kembali ke tempat asalnya, merasa asing kembali.

Kemudian, menurut Oberg (1960) memberikan tahapan atau fase yang terjadi pada gegar budaya karena adanya tekanan saat akan memasuki budaya baru yang mana dikombinasikan dengan sensai kerugian, kebingungan, dan ketidakberdayaan sebagai hasil dari kehilangan norma budaya dan ritual sosial. 

Fase gegar budaya digambarkan dengan UCurve Hypothesis, yaitu : 

(1) Fase Optimistik yaitu individu merasa gembira, memiliki rasa penuh harapan dan euphoria saat baru memasuki lingkungan baru,

(2) Fase Krisis, yaitu individu mulai memiliki permasalahan dengan lingkungan barunya,

(3) Fase recovery, yaitu individu mulai mengerti budaya barunya, pada tahap ini individu secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan untuk menanggulangi budaya baru,

(4) Fase penyesuaian diri, individu mampu memahami budaya barunya, ketika individu mampu menyesuaikan diri dengan dua kebudayaan yang dimilikinya, individu tersebut akan merasa puas dan menikmati dua kebudayaan yang dimiliki. 

Cara-cara Mengatasi Culture Shock, Gegar dan Kejutan Budaya. Gegar budaya yang dialami oleh individu, mulai dari ketegangan, kecemasan, serta ketakutan akan hal-hal baru yang tidak bisa ia beradaptasi dengan baik. 

Tentunya, akan memberikan dampak negatif kepada individu tersebut, misalnya ia akan merasakan ketidaknyamanan dilingkungan baru, karena tidak bisa beradaptasi dengan baik. Hal inilah yang dapat menimbulkan munculnya gegar budaya. 

Lalu, bagaimana kita mengatasi gegar budaya agar tidak menjadi bomerang bagi kita yang ingin memulai beradaptasi dengan lingkungan baru, berikut ini beberapa langkah yang bisa kamu laksanakan, yaitu : 

1. Mempunyai pola pikir yang terbuka kepada hal-hal baru. Cara pertama yang bisa diterapkan untuk mengatasi agar tidak terjadi gegar budaya dengan membiasakan diri pada hal baru, seperti kebudayaan baru, adat-istiadat, tingkah laku serta perilaku baru yang kita jumpai di lingkungan baru. 

Oleh karena itu, gegar budaya bisa diatasi dengan individu yang mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Nah, disinilah dengan terbukanya pola pikir, maka interaksi dan komunikasi berjalan dengan efektif, lancar, serta perasaan yang lebih nyaman, sehingga membuat ketegangan akibat perbedaan itu dapat terminimalisir. 

2. Menyesuaikan diri pada lingkungan baru dan membangun relasi sosial. Upaya utama untuk mengatasi gegar budaya yaitu dengan cara melakukan penyesuaian diri pada lingkungan setempat, mulai dari bahasanya, sehingga kita bisa menjalin interaksi dan komunikasi yang baik dengan lingkungan masyarakat tersebut. 

Seperti kita ketahui, dengan penyesuaian diri maka individu akan mempunyai kesiapan dan kesehatan mental secara psikologis. 

Keberhasilan penyesuaian diri ini, nantinya akan memberikan dampak positif bagi relasi sosial yang dibangun secara bertahap oleh individu tersebut. Disini juga jika sudah berhasil melakukan penyesuaian diri maka ada timbul rasa kepuasan batin seorang individu tersebut. 

Dengan demikian, seseorang yang telah berhasil ditahap ini maka ia telah berhasil mengatasi gegar budaya. Ia telah mampu melakukan kemampuan interaksi dan komunikasi melalui penyesuaian diri dengan memahami serta menjalankan budaya baru kedalam kehidupan sehari-harinya. 

Pada tahap inilah, seseorang individu akan membangun relasi-relasi sosial yang baik, serta mempunyai rekan-rekan baru di lingkungan baru yang ia sudah bisa melewati gegar budaya. 

Oleh karena itu, dengan tahap awal, terbuka pola pikir, maka tahapan kedua tahap menyesuaikan dan membangun relasi sosial menjadi hal penting untuk dilaksanakan, sebagai upaya mengatasi gegar budaya. 

3. Menghindari untuk ke-akuan atau membandingkan lingkungan baru dengan lingkungan lama. Ini pengalaman saya pribadi, ketika berada di daerah rantau, maka sekecil apapun jangan pernah untuk membandingkan kondisi di daerah baru yang kita tingal dengan daerah lingkungan lama kita. 

Langkah awal dengan membuka pola pikir, serta penyesuaian dan membangun relasi sosial telah kita lakukan. Oleh karena itu, hindari diri untuk memunculkan keakuan yang lebih. 

Nah, cara inilah yang juga saya terapkan selama merantau kuliah di daerah orang selama empat tahun lebih, dan sekarang akhirnya betah di daerah rantau, hehehehe curhat 

4. Coba kelilingi daerah yang kamu tinggal sekarang. Mengenal daerah-daerah atau lokasi-lokasi penting yang ada di daerah yang kamu tinggal, bisa menjadi awalan untuk cara mengatasi gegar budaya. 

Cara ini coba saya terapan, dengan ikut beberapa kegiatan di luar kota, jalan ke rumah temen yang di luar kota serta ikut kegiatan sosial yang memberikan pengalaman di daerah-daerah penting yang ada. 

Atau kamu bisa menerapkannya dengan memahami daerah-daerah atau lokasi terdekat yang penting, seperti rumah sakit, kantor-kantor pemerintahan, kantor polisi, serta lokasi-lokasi yang penting. 

Bisa juga berupa tempat nongkrong, tempat wisata, ataupun tempat penting yang biasanya menjadi tempat berkumpul orang-orang di daerah tersebut. 

5. Mencari tahu daerah tujuan yang ingin kita ingin tuju. Nah, cara-cara ini yang saya juga lupa untuk menerapkannya. Sebelum menentukan pilihan daerah rantauan kita hendaknya mencari tahu dulu fakta-fakta maupun sejarah singkat, seputar masyarakat, adat-istiadatnya, maupun etnis yang dominan di daerah tersebut. 

Nah, dengan cara terakhir ini kamu bisa menerapkannya dengan seksama, kemudian lanjutkan lagi kepada tahap awal yang bisa kita lakukan yaitu pola pikir yang terbuka, mesti kita kedepankan untuk menghindari gegar budaya.

Contoh gegar budaya. Ada beberapa contoh fenomena sosial gegar budaya yang bisa kita lihat pada masyarakat di Indonesia. 

Misalnya, disaat pandemi covid-19 di awal-awal masyarakat mengalami gegar budaya, karena kehidupan sosial mengalami perubahan drastis. Harus memulai kebiasaan baru, seperti mematuhi protokol kesehatan Covid-19, yatiu memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan penerapan kebiasaan baru lainnya. 

Selanjutnya, gegar budaya bisa kita lihat saat mahasiswa baru tiba di kampus yang mana itu diluar daerah asalnya, maka ia akan mulai membiasakan diri untuk mempelajari, menyesuaikan diri dengan norma, serta kebudayaan baru yang berbeda saat berada di lingkungan lamanya.  

Nah untuk lebih lengkap lagi silahkan untuk membaca referensi yang adai dibawah ini maupun referensi lainnya. Terimakasih.

Sumber referensi yang bisa kamu baca :

Fenomena Culture Shock Pada Mahasiswa Perantauan Tingkat 1 Universitas Negeri Padang | Penulis : Puji Gusri Handayani dan Verlanda Yuca | Jurnal Konseling dan Pendidikan http://jurnal.konselingindonesia.com Vol. 6 No. 3, 2018. hlm. 198-204

ANALYTICAL THEORY : GEGAR BUDAYA (CULTURE SHOCK) | Penulis : Sabrina Hasyyati Maizan, Khoiruddin Bashori, dan Elli Nur Hayati | PSYCHO IDEA, Tahun 18. No.2, Agustus 2020 ISSN 2654-3516 (online), http://www.jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/PSYCHOIDEA/article/view/6566/3347

Ikuti Sosiologi Info di Google News, klik disini !