Cara (Solusi) Mengatasi Konflik Agama Melalui Pendekatan Budaya di Akar Rumput

Sosiologi Info - Bagaimana cara dan solusi mengatasi penyelesaian konflik antar penganut umat beragama di kehidupan sosial masyarakat sehari harinya ? Yuk simak ulasannya.

Memahami Konflik 

Kehidupan sosial sehari hari masyarakat tidak akan pernah dipisahkan oleh adanya konflik sosial yang terjadi, baik antara individu, antar kelompok, dan antar komunitas. 

Ada berbagai faktor maupun penyebab terjadinya konflik sosial di masyarakat, mulai dari karena adanya perbedaan identitas, suku, etnis, serta berbagai perbedaan lainnya.

Baca pembahasan selengkapnya mengenai konflik :

1. Pengertian Konflik Menurut Para Ahli, Mulai Soerjono Soekanto Hingga James W

2. Sumber Konflik Sosial : Ada 8 Faktor Penyebab dan 5 Bentuk Khususnya

3. Ada 6 Jenis (Macam) Konflik di Kehidupan Masyarakat 

Lalu bagaimana upaya mengatasi konflik yang terjadi di masyarakat. Misalnya konflik antar umat pemeluk agama di Indonesia. 

Pendekatan Budaya di Tingkat Akar Rumput

Konflik yang terjadi antar penganut umat beragama sering terjadi dibeberapa negara, seperti di Indonesia. 

Bahkan konflik agama ini pun berlangsung lama, dan berlarut-larut antar masyarakat. Oleh karena itu, upaya penyelesaian konflik penting dilakukan.

Berbagai cara dan solusi diupayakan dalam menyelesaikan berbagai konflik agama di kehidupan sosial masyarakat sehari hari. 

Dikutip dari lama resmi https://kemenag.go.id, konflik bisa diselesaikan di tingkat akar rumput, karena masyarakat jauh lebih siap untuk duduk bersama.

Ketua Sinode Gereja Protestante Timor Lorosae, Pdt. Fransisco Maria de Vasconcelos mnegatakan konflik antar umat beragama.

Sesungguhnya bisa diselesaikan melalui pendekatan budaya. Menurutnya, cara ini tentu melibatkan masyarakat di akar rumput. 

Hal ini disampaikan pada kegiatan seminar yang digelar dalam rangkaian Jubileum 50 tahun Dewan Gereja Asia (CCA) di Parapat. 

"Konflik antar umat beragama akan dapat diatasi, jika upaya penyelesaian dilakukan dengan melibatkan masyarakat yang berkonflik itu sendiri," katanya. 

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa masyarakat yang di akar rumput jauh lebih siap untuk duduk bersama, ketimbang para elit yang cenderung lebih menonjolkan ego masing-masing.

Dia menjelaskan pada level tertentu para elit agama sulit untuk duduk bersama. 

"Berbeda dengan masyarakat yang terlibat secara langsung dalam konflik. Yang memiliki kedekatan geografis dan budaya dengan lawan konflik mereka," sebutnya.  

Pihaknya menyakini bahwa kedekatan budaya akan menjadi solusi bagi penyelesaikan berbagai konflik antar umat beragama yang sering terjadi di berbagai negara di dunia.

Tokoh Kristen Protestan dari Timor Leste itu juga meyakini masyarakat disetiap daerah akan bisa disatukan melalui pendekatan budaya, meskipun adanya perbedaan agama.

"Masyarakat pada suatu daerah cenderung bisa menerima kondisi dan kedekatan mereka secara budaya. Meski agama mereka berlainan," imbuhnya.

"Faktor budaya ini seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menyelesaikan konflik yang ada," sambungnya lagi.

Menurutnya bagaimanapun konflik antar umat beragama harus bisa diselesaikan tanpa harus menimbulkan korban. 

Ia mengajak masing masing pihak harus mampu menahan diri dan melakukan setiap upaya menuju penyelesaian konflik secara damai.

"Masing masing elit agama seharusnya juga bisa lebih sadar. Tidak memaksakan ego serta lebih mengutamakan damai untuk kepentingan semua umat," tutupnya.

Sumber Referensi :

https://kemenag.go.id/read/konflik-agama-lebih-bisa-diselesaikan-di-tingkat-akar-rumput-x3lx